Friday, May 24, 2019

Situs Kualitasjos.com Berisi Informasi Menarik

Kualitasjos.com - Situs kualitasjos merupakan situs yang dibuat oleh yusron aminullah yang merupakan sebagai admin di situs tersebut

kualitasjos


Jika anda mengunjungi di situs tersebut anda akan mendapat informasi informasi menarik lainya seperti tentang tutorial, tekhnologi, fashion, dan berita lainya. Dan bahkan mungkin kedepanya akan diupdate lagi seperti artikel game, anime, musik. Yang pasti kedepanya akan semakin lengkap.

Berikut kata kata oleh admin situs tersebut.


''Assalamu'alaikum wr.wb 
Salam kenal sobat, terima kasih telah berkunjung ke situs saya.

Situs ini merupakan situs pertama saya, yang saya bangun dengan sungguh sungguh. Sebelumnya juga pernah membuat tapi tidak pernah terurus, sehingga saya menghapusnya.

Di situs ini anda dapat mengetahui berbagai informasi terbaru, serta kumpulan tips dan trik yang mungkin berguna untuk anda. 

Harapanya dengan situs ini dapat memberikan manfaat untuk anda . Cukup sekian tentang situs ini. Jika artikel di dalamnya cukup membantu anda boleh share ke sosial media, dengan senang hati saya mengucapkan terima kasih.''

Mungkin diluar sana banyak sekali pesaing pesaing tetapi tidak memutuskan semangat admin situs tersebut untuk membuat artikel artikel yang baru dan menarik yang berguna untuk pembaca.

kualitasjos
www.kualitasjos.com
Jika anda mempunyai masalah atau ingin mendapatkan tutorial baik itu tentang tekhnologi, android, dan cara cara lainya sebaiknya anda berkunjung ke situs tersebut, agar situs tersebut berkembang kami sarankan anda untuk mendukunganya dengan mengunjungi setiap hari itu sudah cukup agar adminya lebih semangat untuk membangun situs tersebut.

Cukup sekian yang kami sampaikan semoga bermanfaat dan kami harap juga mendukung situs kualitasjos.com untuk lebih maju, yang mana kami yakini situs tersebut sangat berguna kedepanya, sekian dan terima kasih..





Sunday, May 12, 2019

Keanekaragaman Hayati : Pengertianya Tingkatan dan Klasifikasinya

Keanekaragaman hayati - Dari sekian banyak organisme yang menghuni bumi, tidak ada sepasang pun yang benar-benar sama untuk segala hal. Kenyataan tersebut menunjukkan kepada kita, bahwa di alam raya dijumpai keanekaragaman makhluk hidup atau disebut juga keanekaragaman hayati.

Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah. Keseluruhan gen, jenis dan ekosistem merupakan dasar kehidupan di bumi. Mengingat pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan maka keanekaragaman hayati perlu dipelajari dan dilestarikan. Tingginya tingkat keanekaragaman hayati di permukaan bumi mendorong ilmuwan mencari cara terbaik untuk mempelajarinya, yaitu dengan klasifikasi. selengkapnya dapat kamu baca pengertian keanekaragaman hayati

Baca juga : Klasifikasi makhlik hidup dan manfaatnya

keanekaragaman hayati
Gambar : Pixaby.com

Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan, baik tingkatan gen, tingkatan spesies maupun tingkatan ekosistem. Berdasarkan hal tersebut, para pakar membedakan keanekaragaman hayati menjadi tiga tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis dan keanekaragaman ekosistem.

2.1 Keanekaragaman Hayati pada Tingkat Gen

Gen adalah materi yang mengendalikan sifat atau karakter. Jika gen berubah, sifat-sifat pun akan berubah. Sifat-sifat yang ditentukan oleh gen disebut genotipe. Hal ini dikenal sebagai pembawaan. Perbedaan gen tidak hanya terjadi antarjenis. Di dalam satu jenis (spesies) pun terjadi keanekaragaman gen. 

Keanekaragaman Gen Adalah perbedaan atau variasi gen yang terdapat dalam suatu spesies makhluk hidup. Keanekaragaman pada tingkatan gen merupakan keanekaragaman yang paling rendah. Keanekaragaman gen ditunjukkan, antara lain, oleh variasi bentuk dan fungsi gen.

keanekaragaman tingkat gen
Gambar : Pixaby.com

Contoh keanekaragaman tingkat gen yang mudah diamati adalah adanya perbedaan warna merah dan hitam pada ikan koi adanya buah manis dan buah asam pada satu pohon mangga yang sama; dan perbedaan warna kuning, merah, atau putih pada biji jagung.

2.2 Keanekaragaman Hayati pada Tingkat Spesies atau Jenis

Spesies atau jenis adalah individu yang mempunyai persamaan secara morfologis, anatomis, fisiologis dan mampu saling kawin dengan sesamanya (inter hibridisasi) yang menghasilkan keturunan yang fertil (subur) untuk melanjutkan generasinya. Spesiasi atau terbentuknya spesies baru dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi reproduksi, dan perubahan genetika. Adapun proses spesiasi ini dapat berlangsung secara cepat atau lama hingga berjuta-juta tahun.

keanekaragaman genetik
Gambar : pixaby.com

a. Isolasi geografis merupakan bentuk pembatasan alam yang berupa pemisahan populasi oleh kondisi alam. Hal ini dapat terjadi jika populasi makhluk hidup yang sama bermigrasi dari lingkungan lama menuju lingkungan baru yang terpisah dengan lingkungan awal dan menetap membentuk populasi tersendiri. Jika sistem populasi yang mula-mula kontinu dipisahkan oleh kondisi geografis sehingga terbentuk hambatan bagi penyebaran spesiesnya, maka sistem populasi yang demikian tidak akan lagi bertukar susunan gen, dan evolusinya berlangsung secara sendiri-sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua populasi tadi akan semakin berbeda sebab masing-masing menjalani evolusi dengan caranya sendiri.

b. Isolasi reproduksi merupakan salah satu penghambat untuk terjadinya perkawinan silang. Jika individu-individu dalam suatu populasi berkumpul dalam satu tempat, maka mungkin terjadi kompetisi untuk mendapatkan makanan, tempat maupun pasangan. Kompetisi ini memungkinkan individu yang kalah akan beradaptasi dengan mengembangkan hanya sebagai faktor geografis (isolasi dengan pemisahan fisis) yang sebenarnya populasi itu masih memilki potensi untuk melakukan interbreeding dan mereka sebenarnya masih dapat dikatakan dalam satu spesies. Selanjutnya kedua populasi tersebut begitu berbeda secara genetis sehingga "gene flow" yang efektif tidak akan berlangsung lagi seandainya bercampur lagi. Jika titik pemisahan itu telah tercapai, maka kedua populasi itu telah menjadi dua spesies yang terpisah.

c. Banyaknya perubahan genetik yang diperlukan untuk spesiasi tidak dapat ditentukan. Sebagai contoh, dua spesies Drosophila hawaii, Drosophila silvestris, dan Drosophila heteroneura berbeda dalam alel pada suatu lokus gen yang menentukan bentuk kepala, suatu karakter penting dalam pengenalan pasangan kawin Drosophila ini. Akan tetapi, efek fenotipik alel yang berbeda pada lokus ini digandakan oleh paling tidak 10 lokus gen lain yang berinteraksi dalam sistem epistasis. Dengan demikian paling tidak lebih dari satu mutasi diperlukan untuk dapat membedakan kedua spesies Drosophila ini. 

Akan tetapi, jelas terlihat dari contoh seperti itu bahwa perubahan genetik secara besar-besaran yang melibatkan ratusan lokus bukan merupakan keharusan untuk terjadinya spesiasi.
Keanekaragaman tingkat spesies (jenis) adalah perbedaan yang dapat ditemukan pada komunitas atau kelompok berbagai spesies yang hidup disuatu tempat. Keanekaragaman tingkat spesies (jenis) ditunjukkan oleh adanya variasi diantara individu makhluk hidup yang berbeda jenis tapi paling tidak berada pada tingkatan genus atau famili yang sama.

Pada tingkat taksonomi yang lebih tinggi, keanekaragaman jenis dapat diamati dengan mudah. Di lingkungan sekitar dapat dijumpai berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Di dalam satu famili rumput (Gramineae) dapat dijumpai, di antaranya, rumput teki, padi, dan jagung. Di dalam golongan burung dapat dijumpai, antara lain, angsa, ayam, merpati, kalkun, dan burung unta. Contoh keanekaragaman spesies yang mudah untuk dipahami adalah keanekaragaman tingkat spesies yang ditemukan pada keluarga kucing-kucingan (famili Felidae). Dari keanekaragaman tersebut, kita mengenal adanya kucing, harimau, dan singa.

Berdasarkan keanekaragaman hayati tingkat spesies, kelompok berbagai jenis makhluk hidup di pengaruhi oleh daerah tinggalnya. Hal inilah yang menyebabkan adanya tumbuhan dan hewan endemik.   

2.2.1 Spesies Hewan endemik.

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki iklim serta letak geografis paling strategis di dunia. Gejala geografis Indonesia ini memiliki peranan penting dalam membentuk karakter satwa unik yang hanya bias ditemukan di Indonesia tidak ditempat lain (endemik). Menurut pengertiannya endemisme sendiri adalah gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu.

Baca juga : Inilah kromosom dan pengertianya

Untuk bisa disebut endemik suatu organisme harus ditemukan hanya di suatu tempat dan tidak ditemukan di tempat lain, Contohnya adalah Jalak Bali yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Bali Barat di Pulau Bali Indonesia. Faktor fisik, lingkungan geografis, iklim, dan biologis adalah penyebab suatu jenis satwa mengalami endemisme, sebagai contoh adalah komodo, komodo menjadi endemik karena isolasi geografi yang dialaminya dan tantangan ruang hidupnya di Pulau Komodo menyebabkan ia menjadi berbentuk khas. Letak geografis tepat dibawah garis khatulistiwa serta memiliki iklim tropis dua musim menjadikan pulaupulau diIndonesia adalah salah satu habitat alami yang paling sempurna untuk kehidupan satwa-satwa liar tersebut.

a. Hewan Endemik Wilayah Indonesia Bagian Barat
Fauna di wilayah Indonesia bagian barat disebut pula fauna Asiatis. Wilayah ini meliputi pulau Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera. Contoh fauna di wilayah Indonesia bagian barat berdasarkan pulau adalah sebagai berikut:

1. Pulau Jawa : banteng, badak bercula satu, harimau jawa, macan tutul, rusa, Badak bercula satu, harimau jawa, macan tutul, Rusa
2. Pulau Bali : macan tutul dan ayam hutan, Ayam hutan
3. Pulau Kalimantan  : monyet bekantan, beruang madu, orang utan, macan tutul, buaya, ayam hutan, monyet bekantan, beruang madu, orang utan
4. Pulau Sumatera : badak bercula dua, harimau sumatra, ular piton, tapir, gajah, macan tutul. 
badak bercula dua, harimau Sumatra, tapir, ular piton, gajah

b. Hewan Endemik Wilayah Indonesia Bagian Tengah
Fauna di wilayah Indonesia bagian tengah disebut pula fauna Peralihan. Di katakan sebagai peralihan karena terletak di antara garis Wallace dan garis Weber. Wilayah ini meliputi pulau Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara (pulau Komodo, Lombok, Sumba, Flores, dan pulau-pulau kecil lainnya), serta Pulau Timor. Contoh fauna di wilayah Indonesia bagian tengah adalah sebagai berikut:
1. Jenis mamalia yang terdiri dari: babi rusa yang hidup di Sulawesi, Anoa di Sulawesi, ikan duyung, kuskus di Sulawesi, monyet hitam, monyet saba, kuda di Sumba dan Lombok, banteng, sapi di Sumba, beruang tarsius., Anoa, ikan duyung, monyet hitam
2. Jenis reptil terdiri dari komodi di pulau komodio, kura-kura, ular, buaya, dan biawak
3. Jenis amfibi terdiri dari katak terbang, katak pohon, dan katak air yang hijau, Katak terbang,  katak pohon, katak air
4. Jenis burung atau aves terdiri dari burung rangkong di Sulawesi, kakak tua, raja udang, mandar, maleo, merpati, dan nuri. 
Burung meleo burung nuri
burung rangkong burung raja udang       burung mandar
Masih menurut sejarah, pulau Sulawesi tidak pernah terhubung dengan pulau Kalimantan sehingga hewan yang ada di pulau Sulawesi sangat khas dan endemik.

c. Hewan Endemik Wilayah Indonesia Bagian Timur
Fauna di wilayah Indonesia bagian timur disebut pula fauna Australis. Dikatakan demikian karena memiliki kemiripan dengan fauna di benua Australia. Wilayah yang meliputi Indonesia bagian timur, yaitu: Kepulauan Maluku dan Kepulauan Papua. Contoh fauna di wilayah Indonesia bagian timur adalah sebagai berikut:

1. Jenis burung yang terdiri dari: burung cenderawasih, kakatua, nuri, kasuari, namudur. 
Cendrawasih, kakak tua, nuri, Kasuari, namudur
2. Jenis mamalia yang terdiri dari: beruang, walabi, kanguru, landak irian, kanguru pohon, kuskus.
3. Jenis reptilia yang terdiri dari: kura-kura moncong babi, biawak, kadal, ular papua, buaya, kura-kura mancung babi, biawak, kadal
4. jenis ikan yang terdiri dari ikan hiu di kepulauan Papua.
Ikan hiu

2.3 Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem

Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan hubungan timbal balik yang kompleks antara makhluk hidup dengan lingkungannya, baik yang hidup maupun tak hidup (tanah, air, udara, atau kimia fisik) yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem ekologi.

keanekaragaman gen


Ekosistem juga dapat didefinisikan sebagai suatu satuan lingkungan yang melibatkan unsur-unsur biotik (jenis-jenis makhluk) dan faktor-faktor fisik (iklim, air, dan tanah) serta kimia (keasaman dan salinitas) yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Gatra yang dapat digunakan sebagai ciri keseutuhan ekosistem adalah energetika (taraf trofi atau makanan, produsen, konsumen, dan redusen), pendauran hara (peran pelaksana taraf trofi), dan produktivitas (hasil keseluruhan sistem). Jika dilihat komponen biotanya, jenis yang dapat hidup dalam ekosistem ditentukan oleh hubungannya dengan jenis lain yang tinggal dalam ekosistem tersebut. Selain itu keberadaannya ditentukan juga oleh keseluruhan jenis dan faktor-faktor fisik serta kimia yang menyusun ekosistem tersebut.

Baca juga : Pengertian ekologi

Ekosistem adalah tempat dimana terjadinya proses saling interaksi dan ketergantungan antara makhluk hidup sebagai komponen biotik, dengan lingkungan hidupnya yang merupakan komponen abiotik. Komponen abiotik atau komponen tak hidup meliputi udara (nitrogen, oksigen, karbon dioksida, angin, kelembapan), suhu, air, mineral, cahaya, keasaman dan salinitas. Komponen biotik atau komponen hidup terdiri dari produser, konsumer dan decomposer (pengurai).

2.3.1 Struktur Ekosistem

 Bila kita memasuki suatu ekosistem, baik ekosistem daratan maupun perairan, akan dijumpai adanya dua macam organisme hidup yang merupakan komponen biotik ekosistem. Kedua macam komponen biotik tersebut adalah sebagai berikut : 
a. autotrofik, terdiri atas organisme yang mampu menghasilkan (energi) makanan dari bahan-bahan anorganik dengan proses fotosintesis ataupun kemosintesis. Organisme ini tergolong mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Organisme ini sering disebut produsen. 
b. heterotrofik, terdiri atas organisme yang menggunakan, mengubah atau memecah bahan organik kompleks yang telah ada yang dihasilkan oleh komponen autotrofik. Organisme ini termasuk golongan konsumen, baik makrokonsumen maupun mikrokonsumen.

2.3.2 Komponen Ekosistem 

a. Komponen Abiotik
Abiotik atau komponen tak hidup merupakan komponen fisik dan kimia yang medium atau substrat sebagai tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar dari komponen abiotik memiliki beragam variasi dalam ruang dan waktu. Komponen abiotik berupa bahan organik, senyawa anorganik, serta faktor yang memengaruhi distribusi organisme, antara lain: 
1. Suhu yaitu proses biologi dipengaruhi juga oleh suhu. Mamalia dan unggas akan  membutuhkan energi untuk dapat meregulasi temperatur dalam tubuh, 
2. Air yaitu Ketersediaan air juga dapat mepengaruhi distribusi organisme. Organisme yang terdapat pada gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air yang ada di gurun tersebut,
3. Garam yaitu Konsentrasi garam juga memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme dengan melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial mampu untuk dapat beradaptasi di dalam lingkungan dengan kandungan garam yang tinggi.
4. Cahaya matahari merupakan Intensitas serta kualitas cahaya matahari dapat memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga yang terjadi pada lingkungan air, fotosintesis terjadi pada sekitar permukaan yang dapat dijangkau oleh cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya matahari yang sangat besar dapat membuat peningkatan suhu, hal ini dapat mengakibatkan hewan dan tumbuhan tertekan.
5. Tanah dan batu, Karakteristik tanah yang meliputi antara lain struktur fisik,, komposisi mineral, dan pH membatasi penyebaran organisme yang berdasarkan kandungan sumber makanan di tanah dan 
6. Iklim adalah kondisi cuaca dalam suatu daerah atau area serta dalam jangka waktu lama. Iklim makro meliputi iklim global, lokal, dan regional. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni oleh beberapa komunitas tertentu.

Baca juga : Enzim dan Fungsinya 

b. Komponen Biotik 
1. Produser 
Semua organisme berhijau daun (berklorofil) tergolong produser. Produser meliputi organisme bersel satu seperti ganggang,tumbuhan lumut,tumbuhan paku,dan tumbuhan biji. Produser mampu mengubah zat anorganik menjadi zat organik dengan pertolongan cahaya. Zat anorganik yang diperlukan adalah CO2 dan H2O,yang akan diubah menjadi zat organik yaitu gula(C6H12O6) yang diubah menjadi amilum(pati). Organisme yang mampu menyusun zat organik disebut hidup secara autotrof,produser dapat menyediakan bahan makanan bagi makhluk hidup lain. 
2. Konsumen 
Konsumen merupakan makhluk hidup yang berperan sebagai pemakan bahan organik atau energi yang dihasilkan oleh produsen yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Manusia, hewan, dan tumbuhan tak berklorofil merupakan konsumen karena tidak dapat mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik sehingga manusia, hewan, dan tumbuhan tak berklorofil disebut konsumen. Konsumen dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu sebagai berikut. 
a) Konsumen tingkat pertama (konsumen primer) merupakan konsumen yang memakan tumbuhan secara langsung, misalnya, hewan pemakan tumbuhan (herbivor), seperti zooplankton, ulat, belalang, tikus, sapi, kerbau, kambing, dan kuda. 
b) Konsumen tingkat kedua (konsumen sekunder) merupakan konsumen yang memakan konsumen tingkat pertama, misalnya, burung pemakan ulat dan ular pemakan tikus. Biasanya adalah hewan pemakan daging (karnivora). 
c) Konsumen tingkat ketiga (konsumen tersier) merupakan konsumen yang memakan konsumen tingkat kedua, misalnya, burung elang pemakan ular atau burung pemakan ulat. 
d) Konsumen tingkat keempat (konsumen puncak) merupakan konsumen yang memakan konsumen tingkat ketiga. Manusia sebagai pemakan tumbuhan dan daging (omnivora) berada pada tingkatan konsumen. 
3. Dekomposer (pengurai) 
Mikroorganisme yang berperan menguraikan tubuh makhluk hidup lain yang mati atau sampahsampah. Makhluk hidup yang tergolong pengurai adalah jamur dan bakteri. Sampah atau bangkai akan mengalami pembusukan terlebih dahulu dan akhirnya mengalami penguraian. Zat-zat makanan yang berupa zat organik yang terkandung didalamnya akan terurai menjadi gas H2S yang menimbulkan bau busuk,CO2,air dan mineral yang meresap ke dalam tanah. Di dalam ekosistem terjadi hubungan saling ketergantungan antar komponennya. Hubungan saling ketergantungan tersebut terjadi antara :
a) Komponen biotik dengan komponen abiotic, misalnya kandungan nutrisi tanah akan berpengaruh terhadap tumbuhan yang ditanam di tanah tersebut. 
b) Komponen biotik dengan komponen biotik lainnya (produsen, konsumen dan pengurai), misalnya terjadinya peristiwa makan dan dimakan pada rantai makanan

2.3.2 Tipe Ekosistem 

Dalam mengenal berbagai tipe ekosistem, pada umumnya digunakan ciri komunitas yang paling menonjol. Untuk ekosistem daratan biasanya digunakan komunitas tumbuhan atau vegetasinya, karena wujud vegetasi merupakan pencerminan penampakan luar interaksi antara tumbuhan, hewan, dan lingkungannya. Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan ekosistem buatan.  
a. Ekosistem Akuatik (air) 
a) Ekosistem air tawar  

Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain memiliki variasi suhu yang tidak menyolok, penetrasi cahaya yang kurang, serta terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak pada ekosistem air tawar adalah jenis ganggang, sedangkan tumbuhan yang lainnya adalah tumbuhan biji, juga terdapat jamur yang menjadi pengurai dari sisa tumbuhan atau hewan. Hewan yang ada pada ekosistem air tawar seperti fitoplankton, zooplankton,ikan, keong, siput, cacing dan hewan tidak betulang belakang. Tedapat komponen abiotik yaitu, tanah, air, udara dan suhu.

b) Ekosistem air laut 
Habitat laut ditandai oleh salinitas atau kadar garam yang tinggi dengan ion CI- Dapat mencapai 55% terutama pada daerah laut tropik, hal ini karena disana memiliki suhu yang tinggi dan penguapan yang sangat besar. Pada daerah tropik, suhu laut dapat berkisar 25 °C. Terjadinya perbedaan suhu bagian atas dengan bagian bawah tinggi dan terdapat batas antara lapisan tersebut yang disebut dengan termoklin. Komponen biotiknya antara lain ganggang dan ikan. Komponen abiotik yaitu, suhu, cahaya, air, tanah, kelembapan, garam mineral, dan keasaman.

c) Ekosistem estuari 
Estuari atau muara merupakan tempat bersatunya sungai dengan air laut. Estuari sering dipagari dengan lempengan lumpur intertidal yang cukup luas. Ekosistem estuari memiliki produktivitas yang sangat tinggi serta memiliki banyak nutrisi. Ciri estuari adalah berair payau. Berdasarkan salinitasnya estuaria dibedakan menjadi oligohalin yang berkadar garam rendah (0.5-3%), mesohalin berkadar garam sedang (3-17%), dan polihalin berkadar garam tinggi di atas 17%. Komunitas tumbuhan yang dapat hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, fitoplankton, dan ganggang. Komunitas hewannya seperti cacing, ikan, kerang, dan kepiting. Komponen abiotiknya yaitu, air, tanah, udara, suhu, angin dan garam mineral.

d) Ekosistem pantai 
Dinamakan ekosistem pantai karena yang paling banyak tumbuh pada gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae memiliki kemampuan untuk dapat tahan terhadap hempasan gelombang dan angin. Tumbuhan lain yang ada seperti ganggang. Hewan yang ada di ekosistem pantai yaitu, kepiting, anemon, remis, kerang, siput, landak laut, bintang laut dan ikan kecil. Komponen Abiotik: air laut, pasir, batu, cahaya matahari, oksigen, suhu, angin, dan mineral.

e) Ekosistem sungai 
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir pada satu arah. Air sungai dingin serta jernih dan memiliki sedikit kandungan sedimen. Aliran air dan gelombang secara konstan dapat memberikan oksigen pada air. Ekosistem sungai dihuni oleh beberapa hewan seperti gurame, kurakura,dan sebagainya. Komponen Biotik: tumbuhan (contoh: ganggang, angkung liar, enceng gondok, lumut, dan lain sebagainya), binatang (contoh: sipur, keong, remis, kerang, udang , ular, serangga, dan lain sebagainya), fitoplankton, zooplankton, serta organisme lainnya. Komponen Abiotik: air, cahaya matahari, oksigen, suhu, angin dan tanah.

f) Ekosistem terumbu karang 
Ekosistem terumbu karang terdiri dari coral yang berada dekat pantai. Efisiensi ekosistem  terumbu karang sangat tinggi. Hewan-hewan yang hidup pada karang memakan organisme mikroskopis serta sisa organik lain. Kehadiran terumbu karang yang berada di dekat pantai membuat pantai dapat memiliki pasir putih.  Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang menyekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacam-macam bentuknya dan menyusun substrat tempat hidup karang lain dan ganggang. Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora. Komponen abiotik: air laut, pasir, cahaya matahari, oksigen, suhu, kelembapan, dan mineral.

g) Ekosistem laut dalam 
Ekosistem laut dalam memiliki kedalaman yang dapat mencapai lebih dari 6.000 m. Biasanya terdapat lele laut serta ikan laut yang mampu untuk dapat mengeluarkan cahaya. Tidak adanya tumbuhan yang hidup karena tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Komponen abiotik: air laut, pasir, bebatuan, oksigen, suhu, kelembapan, dan mineral.

h) Ekosistem lamun
Lamun atau seagrass adalah satu-satunya kelompok tumbuhan yang dapat berbunga di lingkungan laut. Tumbuhan tersebut dapat hidup pada perairan pantai dangkal. Lamun atau seagrass mempunyai tunas berdaun yang tegak serta tangkai-tangkai yang merayap untuk berbiak. Sebagai sumber daya hayati, tumbuhan lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Hewan yang hidup antara lain duyung, bulu babi, kepiting, udang dan penyu. Komponen abiotik: air laut, pasir, angin, oksigen, suhu, dan mineral.

a.  Ekosistem Terestrial (darat) 
Penentuan zona yang terjadi pada ekosistem terestrial ditentukan dengan temperatur dan curah hujan. Ekosistem terestrial atau ekosistem darat dapat dikontrol oleh iklim dan gangguan. Iklim sangat berperan penting untuk menentukan mengapa pada suatu ekosistem terestrial berada pada tempat tertentu. Pola ekosistem tersebut dapat berubah akibat berbagai gangguan missal seperti petir, kebakaran, penebanganan pohon, dan sebagainya.  

a) Hutan hujan tropis 
Hutan hujan tropis terdapat pada daerah tropik dan subtropik. Hutan hujan tropis memiliki ciri-ciri curah hujan 200-225 cm per tahun. Spesies pepohonan relatif cukup banyak dan jenisnya berbeda tergantung letak geografisnya. Dalam hutan hujan tropis terdapat tumbuhan khas, yaitu liana atau rotan dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, burung, kera, badak, harimau, serangga, burung, ular, kadal, cacing, burung elang, kupu – kupu, dan burung hantu.  Komponen Abiotik: air, cahaya matahari, kelembapan, oksigen, suhu, angin, batu dan tanah.

b) Sabana 
Sabana dari daerah tropik terdapat pada wilayah yang memiliki curah hujan 40 – 60 inci per tahun, tetapi temperatur serta kelembaban masih tergantung terhadap musim. Hewan yang hidup di sabana antara lain serangga serta mamalia seperti zebra, hyena, dan singa.  Tumbuhan yang hidup di sabana seperti rumput, Aucalyptus, tumbuhan gerbang, dan Acacia. Komponen abiotik: air, cahaya matahari, udara, suhu, angin, dan tanah.

c) Padang rumput 
Padang rumput terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-ciri padang rumput adalah memiliki curah hujan sekitar 25-30 cm per tahun, hujan turun secara tidak teratur, porositas atau peresapan air yang tinggi, dan drainase aliran air yang cepat. Tumbuhan yang terdapat pada padang rumput terdiri atas tumbuhan terna dan rumput. Hewannya antara lain: bison, serigala, anjing liar, zebra, gajah, jerapah, serangga, dan sebagainya. Komponen Abiotik: air, cahaya matahari, batu, udara, suhu, angin, dan tanah.

d) Gurun 
Gurun terdapat pada daerah tropik yang berbatasan dengan padang rumput. Ekosistem gurun memiliki ciri-ciri gersang dan curah hujan rendah sekitar 25 cm/tahun. Perbedaan suhu yang terjadi antara siang dan malam sangat besar. Dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti kaktus atau tak berdaun dan memiliki akar yang cukup panjang serta mempunyai jaringan yang dapat menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun seperti ular, kalajengking, dan beberapa hewan nokturnal lainnya. Komponen Abiotik: air, cahaya matahari, suhu, angin, dan tanah.

e) Hutan gugur 
Hutan gugur terdapat pada daerah beriklim sedang yang memiliki 4 musim dan memiliki ciri- ciri curah hujan merata sepanjang tahun. Jenis pohon dalam ekosistem hutan gugur sedikit dan tidak terlalu rapat. Hewan yang terdapat di ekosistem hutan gugur antara lain rusa, rubah, beruang, dan rakun.  Komponen abiotik: air, cahaya matahari, iklim, suhu, angin, batu dan tanah.

f) Taiga 
Taiga terdapat dibelahan bumi sebelah utara dan pegunungan daerah tropik. Taiga memiliki  ciri-ciri suhu di musim dingin yang rendah. Hutan taiga seperti konifer, pinus, dan sejenisnya. Hewan yang hidup di taiga antara lain moose, beruang hitam, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada saat musim gugur.  Komponen Abiotik: air, cahaya matahari,udara, suhu, dan tanah.

g) Tundra 
Tundra terdapat pada belahan bumi sebelah utara dalam lingkaran kutub utara serta terdapat di puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah tundra hanya sekitar 60 hari. Contoh tumbuhan pada ekosistem tundra yang dominan adalah sphagnum, liken, tumbuhan perdu, dan rumput alang-alang. Hewannya Muskox, rusa kutub, kelinci, serigala, rusa dan domba. Komponen abiotik: air, cahaya matahari, es suhu, angin, bebatuan dan tanah.

h) Karst (batu gamping /gua)  
Karst berawal dari nama kawasan batu gamping yang terdapat pada wilayah Yugoslavia. Karst memiliki ciri-ciri tanahnya kurang subur untuk pertanian, mudah longsor, sensitif terhadapt erosi.  Beberapa jenis flora seperti anggrek, paku-pakuan, palem dan pandang merupakan jenis yang terkadang hidup di tebing-tebing karst. Hewan yang sering ditemui pada ekosistem karst/gua adalah kelelawar. Komponen abiotik: air, bebatuan, tanah, udara dan cahaya.

c.  Buatan 
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan sendiri oleh manusia untuk memenuhi  kebutuhan. Contoh ekosistem buatan adalah: 
Macam-macam ekosistem buatan :
1. Bendungan dan bendungan 
Suatu ekosistem buatan yang berupa bangunan penahan atau penimbun air untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi, pembangkit listrik. Waduk   adalah danau alam atau danau buatan, kolam penyimpan atau pembendungan sungai yang bertujuan untuk menyimpan air. Komponen biotik : berbagaimacam hewan air, darat dan udara; pohon, rumput, lumut, sebagai pelengkap habitat hewan-hewan tersebut agar kandangnya menyerupai habitat aslinya. Komponen abiotik : tanah, batu, air, cahaya, dan udara

2. Kolam 
Kolam ikan merupakan salah satu contoh ekosistem buatan, biasanya kolam ikan ini memiliki tujuan produkstivitas perikanan atau hanya sebagai hiasan saja. Komponen biotik: lumut dan zooplankton,  ikan, keong, kecebong, dan katak, cacing. Komponan abiotik: air, tanah , cahaya matahari.  

3. Sawah 
Sawah merupakan suatu ekosistem berupa lahan pertanian dengan permukaan tanah yang rata dan terdapat pematang sebagai pembatas. Sawah termasuk dalam ekosistem buatan karena sengaja dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan pangan. Komponen biotik tumbuhan primer , tumbuhan sekunder, hewan. Komponen abiotik tanah, air,  cahaya matahari, dan lainnya.
KESIMPULAN

Keanekaragaman hayati terbagi atas tingkatan. Adapun tingkatannya yaitu, tingkat gen, tingkat spesies dan tingkat ekosistem. Keanekaragaman tingkat gen merupakan keanekaragaman yang paling rendah. Keanekaragaman gen ditunjukkan antara lain, oleh variasi bentuk dan fungsi gen. Keanekaragaman tingkat spesies yaitu perbedaan yang dapat ditemukan pada komunitas atau kelompok berbagai spesies yang hidup disuatu tempat, ditunjukkan oleh adanya variasi diantara individu hidup yang berbeda jenis tapi paling tidak berada pada tingkatan genus atau famili yang sama.

Baca juga : Virus yang menyerang manusia, hewan dan tumbuhan lengkap dengan gambarnya

Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem yaitu keanekaragaman ekosistem yang berbeda-beda pada suatu tempat. Ekosistem memiliki dua komponen yaitu biotik dan abiotik. Dalam keanekaragamannya, ekosistem memiliki tipe ekosistem antara lain ekosistem perairan, ekosistem darat dan ekosistem buatan.


Disusun Oleh : Kelompok 3
1. Nur Laela
2. Rina Dwik Atanti
3. Nur Ardiansyah
4. Ulfa Kholifatun Nisa

DAFTAR PUSTAKA

Sulistyorini, Ari. (2009). Biologi 1 untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X. Jakarta : PT. Balai Pustaka
Subardi, dkk. (2009). Biologi untuk Kelas X SMA dan MA. Jakarta : CV. Usaha Makmur.
Suwarno. (2009). Panduan Pembelajaran Biologi X untuk SMA & MA. Jakarta : CV Karya Mandiri Nusantara. 
Ariebowo, Moekti dan Fictor Ferdinand P.(2009). Praktis Belajar Biologi 1 untuk SMA & MA. Jakarta : Visindo Media Persada 
Moch. Anshori, Moch. dan Djoko Martono. (2009). Biologi untuk Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) - Madrasah Aliah (MA) Kelas X. Jakarta : Acarya Media Utama
Kurniawan, D. U. (2016). Perancangan Buku Elektronik Cerita Satwa Endemik Indonesia Untuk Anak Usia Sekolah Dasar(Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).
Kistinnah, Idun, Endang Sri Lestari.2009.BIOLOGI Makhluk Hidup dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas X.Jakarta:CV. Putra Nugraha
Utomo, S. W., Sutriyono, S., & Rizal, R. (2014). Ekologi (Vol. 2, No. 577, pp. 1-31). Universitas Terbuka.

Itulah pengertian dan tingkatan juga klasifikasinya dari tingkat biodibersitas atau keanekaragaman hayati semoga bermanfaat.

Tuesday, May 7, 2019

Sukses dan Faktor Kesuksesan atau Keberhasilan

kesuksesan sukses adalah

Sukses

Kesuksesan adalah dimana kita melakukan sebuah usaha untuk mencapai sesuatu dan kita melaluinya dengan seluruh usaha dan hasil yang kita lakukan menghasilkan sesuai apa yangkita inginkan.
Hasil penelitian dari Thomas J. Stanley, Ph.D yang mana mungkin akan mengubah apa yg anda percayai saat ini. Mungkin anda beranggapan bahwa kesuksesan seseorang dapat dilihat dan dipengaruhi oleh faktor kecerdassan ? memang itu tidak salah, kecerdasan memang dibutuhkan di masa saat ini apalagi makin pesat berkembanganya tekhnologi dengan cepat. Tetapi apakah anda tahu bahwa kesuksesan seseorang terbesar dipengaruhi oleh karakter dan sikap kita ?

Riset beliau menunjukkan bahwa dari 100 faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan seseorag, Teernyata IQ hanya di urutan ke-21, bersekolah di sekolah favorit di urutan ke-23, dan lulus dengan nilai terbaik/hampir terbaik cuma faktor sukses di urutan ke-30.

woww.. Kaget kah anda???  Mau tau 10 faktor utama yg berpengaruh terhadap kesuksesan? 

Kesuksesan

1. Jujur
2. Disiplin
3. Gaul (Good interpersonal Skill) 
4. Dukungan dari pasangan hidup
5. Bekerja lbh keras dari yg lain
6. Mencintai apa yg dikerjakan
7. Kepemimpinan yg baik & kuat (Good & Strong Leadership)
8. Semangat & berkepribadian kompetitif
9. Pengelolaan kehidupan yg baik (Good life management)
10. Kemampuan menjual gagasan & produk (Abilty to sell idea or product)

Baiklah itulah beberapa faktor kesuksesan seseorang, dari hasil riset Thomas J. Stanley, Ph.D. Untuk itulah kita harus merubah sikap kita dan lakukanlah yang terbaik semampu kita agar kesuksesan dapat kita capai.

Baca Juga :

- Pengertian Suksesi

Distribusi Dan Reseptor Saraf Kulit : Cara Kerja

Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh dan reseptor tersebut menangkap sebuah rangsangan yang datang dan mengirimnya ke otak, selanjutnya kita akan merasakan rangsangan tersebut dan prosesnya berlangsung sangat cepat, reseptor merupakan hal sangat dibutuhkan bagi kelangsungan sebuah makhluk hidup yang berkemampuan untuk merespon adanya rangsangan fisik atau kimia yang nantinya akan dikirim ke saraf pusat.


Jenis Jenis Reseptor

Mungkin saat ini yang kiata tahu ada belasan sel reseptor yang kita kenal.  Dan beberapa lainya terdapat sebuah saraf reseptor sensorik, untuk cara kerjanya tidak kita sadari. Dari itu kita dapat didklasifikasikan antara lain. (1) ekstrorecseptor merupakan rangsangan rasa dari luar tubuh, (2) introreseptor yang menanggapi kualitas fisik atau kimia dalam tubuh,, (3) proprioseptors yang memberikan informasi tentang posisi tubuh;. 
Contoh dari beberapa kategori tersebut adalah :

Extroreceptors

- Fotoreseptor yang ada berada di retina yang berguna untuk penglihatan
- Kemoreseptor yang berguna untuk penginderaan bau dan rasa
- Mekanoreseptor memiliki fungsi untuk merasakan suara, di koklea, atau sensasi sentuhan di kulit
- Termoreseptor (yaitu, Krause dan sel Ruffini), untuk merasakan adanya rangsangan dingin dan panas

Introreseptor 

- Kemoreseptor pada arteri karotis dan aorta, berfungsi untuk menanggapi tekanan parsial oksigen, dan di pusat pernapasan berfungsi untuk menanggapi tekanan parsial karbon dioksida
- Mekanoreseptor berada di labirin
- Osmoreseptor yang ada di hipotalamus, berguna untuk mendaftarkan tekanan osmotik dalam darah

Proprioseptor 

- Otot Spindle, memiliki fungsi menanggapi perubahan panjang otot
- Organ tendon Golgi, berfungsi untuk mengukur ketegangan otot

Fungsi Reseptor

Adanya sebuah rangsangan yang datang ke tubuh dan kita dapat merasakan merupakan hasil dari kerja sebuah reseptor yang mana memiliki fungsi untuk menerima dan mengirim sebuah rangsangan seperti fisik yakni sentuhan dan berupa panas atau lainya yang nantinya akan dikirim ke saraf pusat sehingga kita bisa merasakan adanya sebuah rangsangan kemudian nantinya akan melakukan sebuah tindakan dari rangasangan tersebut.

Cara Kerja Reseptor

Pada kulit kita terdapat beberapa jenis reseptor rasa. Mekanisme sensoris pada reseptor-reseptor tersebut dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan philogenesis, jalur-jalur syaraf spinal, dan daerah cortex cerebri. Golongan pertama, yakni paleo-sensibilities, meliputi rasa-rasa primitif atau rasa-rasa vital, antara lain rasa raba, rasa tekan, nyeri, dingin, dan panas. Syaraf-syaraf afferen dari rasa-rasa ini bersinap dengan interneuron-interneuron yang bersinap lagi dengan motor-motor neuron dari medulla spinalis dan juga dengan thalamus dan cortex cerebri melalui traktus spinotalamicus. Indera somatik merupakan mekanisme saraf yang mengumpulkan informasi sensoris dari tubuh. Indera somatik dapat digolongkan menjadi tiga jenis fisiologis yaitu indera somatik mekanoreseptif yang dirangsang oleh pemindahan mekanis sejumlah jaringan tubuh, indera termoreseptor yang mendeteksi panas dan dingin, dan indera nyeri yang digiatkan oleh faktor apa saja yang merusak jaringan. Percobaan untuk mendeteksi rasa panas dan dingin dilakukan dengan memasukkan telunjuk ke dalam air es, air panas 40 C, dan air dengan suhu kamar (air PDAM). Jari telunjuk yang dimasukkan ke dalam air es lalu dimasukkan ke dalam air dengan suhu kamar (air PDAM) terasa lebih hangat, sedangkan jari telunjuk yang dimasukkan ke dalam air panas 40 C terasa lebih dingin saat dimasukkan ke dalam air dengan suhu kamar (air PDAM). 

Hal ini disebabkan karena adanya perbandingan atau perbedaan relatif indera rasa kita saat merasakan panas dan dingin, bukan kekuatan mutlak dari suhu suatu benda. Pada percobaan meniup punggung tangan, Akan merasa dingin karena terjadi penguapan pada permukaan punggung tangan dengan mengambil panas dari kulit. Saat punggung tangan dibasahi oleh air kemudian ditiup, air akan menyerap kalor untuk menguap, tetapi proses penguapan air lebih lama dibandingkan dengan proses penguapan alkohol. Maka dari itu, saat kita coba mengoleskan alkohol terlebih dahulu, tiupan akan terasa lebih dingin dibanding saat diberi air. Hal ini disebabkan karena titik penguapan alkohol lebih rendah dari air sehingga mengambil kalor lebih banyak dari permukaan kulit dan kita coba merasa lebih dingin. Pada percobaan dengan alkohol pada kulit, mula-mula timbul rasa dingin lalu disusul rasa panas. Rasa dingin ini disebabkan oleh penguapan alkohol, tetapi karena proses penguapan alkohol berlangsung cepat, maka lama-kelamaan alkohol menguap habis dan suhu permukaan kulit kembali normal. Saat permukaan kulit kembali ke suhu normal, kita coba merasakan panas karena kulit mengalami kenaikan suhu. 

Dari hasil percobaan tersebut dapat disimpulkan, bila suatu rangsang tetap diberikan secara terus-menerus pada suatu reseptor, frekuensi potensial aksi di saraf sensorik lama- kelamaan akan menurun. Hal ini yang dinamakan dengan adaptasi. Dengan adanya proses adaptasi pada tubuh seseorang, rasa panas yang dirasakan pada percobaan meniup punggung tangan dengan mengoleskan alkohol sebelumnya akan hilang dan tidak berlangsung terusmenerus.Reseptor atau organ sensoris adalah segala macam struktur yang mampu menerima dan mengubah rangsang/ stimulus yang diterimanya. Reseptor merupakan penghubung antara dunia luar dan dunia di dalam tubuh itu sendiri. Reseptor sensoris memiliki beberapa karakteristik dasar sebagai berikut:

1. Mengandung sel-sel reseptor yang dapat merespon stimulus pada batas ambang (stimulus dengan intensitas minimal)
2. Strukturnya dirancang untuk menerima stimulus yang spesifik
3. Sel reseptor pertama bersinaps dengan serabut aferen, yang akan membawanya ke susunan saraf pusat. Sejumlah reseptor di kulit berhubungan dengan neuron yang memiliki saraf yang panjangnya mencapai hingga 1 meter, yang kemudian bersinaps dengan interneuron (saraf penghubung) di medulla spinalis. Sebaliknya, sel reseptor pada mata memiliki akson pendek yang bersinaps dengan sel-sel di retina, sebelum diproyeksikan ke otak melalui saraf optic
4. Setelah itu, impuls saraf diangkut sepanjang saraf melalui batang otak dan diensefalon, menuju korteks otak. Di diensefalon dan korteks otak, stimulus dan impuls saraf ditranslasikan menjadi sensasi yang dapat dikenali, seperti penglihatan dan suara. 


sumber : Site_Indra rasa.pdf

Sunday, May 5, 2019

Klasifikasi Makhluk Hidup Dan Tujuanya Manfaatnya

Subhanallah, sungguh besar ciptaan allah Swt dengan Keanekaragam dari makhluk hidup yang tersebar diseluruh muka bumi ini  mendorong diperlukannya pengelompokkan makhluk hidup atau sering disebut dengan klasifikasi makhluk hidup. Klasifikasi makluk hidup adalah suatu cara penggolongan atau pengelompokan makluk hidup yang dilakukan secara sistematis dimana pengelompokan disini didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri-ciri atau sifat dari makluk hidup tersebut. Persamaan atau perbedaan ciri yang biasanya digunakan dalam klasifikasi makluk hidup adalah ciri bentuk luar ( morfologi ), susunan tubuh ( anatomi ) , faal tubuh ( fisiologi ), perilaku, dan kromosom. 

Sistem klasifikasi makhluk hidup 

Yang pertama kali dipelopori oleh Carolus Lennaeus pasa abad ke-18. Sistem klasifikasi tersebut, dikembangkan oleh para ilmuan  biologi supaya kita dapat mempelajari dan mengenali makhluk hidup. Selain itu, klasifikasi makhluk hidup adalah memungkinkan kita untuk lebih memahami kehidupan di dunia dengan membantu kita untuk: 
a) mengidentifikasi makhluk hidup, 
b) memahami sejarah makhluk hidup di dunia, 
c) menunjukkan kemiripan dan perbedaan antara makhluk hidup, 
d) mengomunikasikan secara tepat, akurat dan lebih mudah. 

Tujuan Klasifikasi Makhluk Hidup

Seperti yang telah diketahui, tujuan klasifikasi makhluk hidup adalah untuk mempermudah dalam mempelajari dan mengenali makhluk hidup dimuka bumi. Akan tetapi, klasifikasi juga memiliki tujuan khusus/lain sebagai berikut:
a. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaaan dan perbedaan ciri-ciri yang dimiliki.
b. Mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhuk hidup dari jenis yang lain.
c. Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup
d. Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya.

Jenis-jenis Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup

Makhluk hidup dapat dikelompokkan atau diklasifikasikan dengan beberapa perbedaan dan persamaan ciri yang dimiliki, serta berdasarkan garis evolusi yang dialaminya. Oleh karena itu muncul beberapa jenis sistem klasifikasi makhluk hidup. Sistem klasifikasi tersebut tebagi menjadi 3, yaitu sistem klasifikasi alami, sistem klasifikasi buatan, dan sistem klasifikasi filogenik.

a. Sistem Klasifikasi Alami (Natural)

Klasifikasi sistem alami  cara pengelompokan berdasarkan ciri morfologi, anatomi dan fisiologi. Penganut klasifikasi ini adalah Aristoteles. Pengamatan dilakukan melalui mata telanjang dengan mengamati bentuk luar suatu makhluk hidup. Kelebihan sistem klasifikasi ini adalah identifikasinya yang mudah.pengelompokkan organisme yang kurang dikenal masih mungkin mengunakan sistem klasifikasi ini. Sistem ini juga relatif stabil dan tidak terpengaruh oleh perkembangan ilmu pengetahuan

Baca juga : Tata nama binomial nomenklatur dan pengertianya

b. Sistem Klasifikasi Buatan (Artifisial)

Klasifikasi sistem buatan disebut juga klasifikasi sistem artifisial, pengelompokan berdas persamaan ciri morfologi yg mudah dilihat (Carolus Linnaeus). Klasifikasi ini kurang teratur dan tidak disertai tata nama. Kelebihan sistem ini adalah semua orang dapat melakukan pengelompokkan makhluk hidup dengan menentukan sendiri aturan yang digunakan.

c. Sistem Klarifikasi Filogenik

Klasifikasi sistem filogeni merupakan pengelompokan yang memperhatikan sejarah evolusi suatu makhluk hidup. Dicetuskan oleh Charles Darwin. Beliau juga mengaitkan antara klasifikasi dan evolusi. Kelebihan sistem ini adalah dapat diketahui adanya hubungan filogenik antarorganisme yang berada dalam satu kelompok.

Tingkatan takson

Dalam sistem klasifikasi, makhluk hidup dikelompokkan menjadi suatu kelompok besar  kemudian  kelompok  besar  ini dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil ini kemudian dikelompokkan lagi dengan menghilangkan angggotanya yang berbeda lagi menjadi kelompok yang lebih kecil lagi secara detail begitu seterusnya sehingga pada akhirnya terbentuk kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan hanya satu jenis makhluk hidup. Tingkatan-tingkatan pengelompokan ke unit yang sama itu disebut takson, ilmunya Taksonomi. Taksa (takson) telah distandarisasi di seluruh dunia berdasarkan International Code of Botanical Nomenclature dan International Committee on Zoological Nomenclature. Pada tumbuhan, phylum diganti menjadi divisi.

Baca juga : Virus Yang Menyerang Manusia Hewan dan Tumbuhan Lengkap dengan Gambar  

1.3 Sejarah Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup

Sebenarnya manusia telah lama mengelompokan makhluk hidup, walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Manusia frimitif mengelompokan makhluk hidup menjadi kelompok makhluk hidup beracun dan makhluk hidup predator (pemangsa hewan lain).
b. Manusia mengelompokan makhluk hidup berdasarkan tempat hidupnya, yaitu organisme darat dan organisme air.
c. Pengelompokan mkhluk hidup berdasarkan kegunaanya, baik makhluk hidup yang menguntungkan ataupun yang merugikan.
d. Pengelompokan tumbuhan berdasarkan besar kecilnya. Kita kenal kelompok tumbuhan rumput-rumputan, tumbuhan semak atau perdu, dan kelompok tumbuhan pepohonan.

Beberapa abad SM, Aristoteles, yaitu filusuf Yunani (384-422) adalah orang yang pertama merintismengadakan klasifikasi hewanberdasarkan ciri-cirinya. Dia berhasil mengelompokan seribu jenis hewan tang dikenalnya. Oleh sebab itu, dia dijuluki bapa zoologi.
Pada abad ke-17 munculah tokoh yang melahirkan konsep moderntentangspesies dan mencoba melanjutkan klasifikasi makhluk hidup ke arah grup-grup yang lebih kecil. Orang tersebut adalah, John Ray dari Inggris (1627-1705).
Pada pertengahan abad ke-18, Carollus Linnaeus (1707-1778), yaitu seorang ahli biologi berkebangsaan Swedia, memperkenalkan cara mengelompokan atau klasifikasi baru, berdasarkan kesamaan struktur dan menciptakan Binonium Nomenclatur.

Klasifikasi berdasarkan keturunan dan hubungan kekerabatan (filogenetik) dapat mengalami perkembangan. Klasifikasi ini digunakan dan diakui secara internasional, bahkan dalam sejarah telah dilakukan beberapa kali perubahan sistem klasifikasi oleh ahli taksonomi yang disesuaikan dengan penemuan-penemuan baru saat ini.

Baca juga : Enzim dan Fungsinya

1.      Sistem Dua Kingdom
Sistem dua kingdom ini dinyatakan oleh seorang ahli dari yunani yang bernama Aristoteles, dua kingdom yang dimaksud adalah Kingdom Plantae (Tumbuhan) dan Kingdom Animalia (Hewan)

2.      Sistem Tiga Kingdom
Pada tahun 1866 seorang ahli botani dari jerman yang bernama Ernst Haeckel menyarankan suatu pemecahan pengklasifikasian makhluk hidup menjadi tiga kingdom yaitu Kingdom Monera, Kingdom Plantae (Tumbuhan) dan Kingdom Animalia (Hewan).

3.      Sistem Empat Kingdom
Sistem empat kingdom ini dicetuskan oleh Robert Whittaker pada tahun 1959. Klasifikasi ini didasarkan pada penemuan inti sel. Dia melihat ada makhluk hidup yang inti selnya tidak memiliki membran (prokariotik) misalnya bakteri dan ganggang hijau biru. Ada beberapa makhluk hidup yang inti selnya diselimuti membran (eukariotik) misalnya jamur, ganggang (selain ganggang biru), tumbuhan dan hewan. Empat kingdom tersebut adalah Kingdom Monera, Kingdom Fungi, Kingdom Plantae (Tumbuhan), Kingdom Animalia (Hewan).

4.      Sistem Lima Kingdom
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong R.H.Whittaker (1969) menyusun klasifikasi berdasarkan tingkatan makhluk hidup, susunan sel dan cara memperoleh nutrisi. Pada klasifikasi lima kingdom terjadi perubahan – perubahan yang besar dalam penataan filum. Hal ini disebabkan adanya tambahan satu kingdom yaitu Protista. 

5.     Sistem Enam Kingdom.
Sejak pertengahan 1970-an, semakin banyak riset di bidang komparasi gen pada level molekular (dimulai dengan gen ribosomal RNA) sebagai faktor utama dalam klasifikasi; kemiripan genetik ditekankan terhadap penampilan luar dan perilaku. Tingakatan taxonomi, termasuk kingdom, adalah kelompok organisme dengan nenek moyang yang sama, baik monofilik (semua keturunan dari satu nenek moyang yang sama) atau parafilik (hanya beberapa keturunan dari satu nenek moyang yang sama). Berdasarkan studi RNA, Carl Woese membagi prokaryote (Kingdom Monera) menjadi dua kelompok, yaitu Eubacteria dan Archaebacteria, karena ada banyak perbedaan genetik antara dua kelompok ini. Eukaryote , seperti tumbuhan, fungi dan hewan mungkin tampak serupa, tetapi mirip dalam genetiknya di tingkatan molekular dibandingkan Eubacteria atau Archaebacteria. (Ditemukan juga bahwa eukaryote lebih dekat secara genetik dengan Archaebacteria daripada dengan Eubacteria.) Woese menciptakan sistem "tiga kingdom utama" atau "urkingdom".[8] In 1990, the name "domain" was proposed for the highest rank.[15] Sistem enam kingdom ini adalah hasil pencampuran sistem lima kingdom dan sistem tiga domain dari Woese.

Baca juga : Pengertian ekologi

Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup

Klasifikasi sistem enam kingdom :

1. Kingdom Eubacteria

Para makhluk hidup di Kingdom Eubacteria berupa makhluk hidup sel tunggal (uniseluler). Makhluk hidup yang dimasukkan dalam kerajaan Eubacteria memiliki sel prokariotik (sel sederhana yang tidak mempunyai kapsul sebagai lapisan terluarnya dan dinding sel didalamnya). Eubacteria juga dikenal dengan istilah bakteria.

2. Kingdom Archaebacteria

Makhluk hidup di Kingdom Archaebacteria tidak jauh berbeda dengan yang ada di Kingdom Eubacteria karena mereka dulunya satu Kingdom. Namun Archaebacteria umumnya tahan di lingkungan yang lebih ekstrim.


3. Kingdom Protista

Makhluk hidup yang dimasukkan dalam kingdom Protista memiliki sel eukariotik. Protista memiliki tubuh yang tersusun atas satu sel atau banyak sel tetapi tidak berdiferensiasi. Protista umumnya memiliki sifat antara hewan dan tumbuhan. Kelompok ini terdiri dari Protista menyerupai tumbuhan (ganggang), Protista menyerupai jamur, dan Protista menyerupai hewan (Protozoa, Protos: pertama,zoa:hewan). Protozoa mempunyai klasifikasi berdasarkan sistem alat geraknya, yaitu Flagellata/Mastigophora (bulu cambuk, contoh Euglena, Volvox, Noctiluca, Trypanosoma,danTrichomonas), Cilliata/Inf usiora (rambut getar, contoh Paramaecium), Rhizopoda/Sarcodina (kaki semu, contoh Amoeba) dan Sporozoa (tidak mempunyai alat gerak, contoh Plasmodium).

4. Kingdom Fungi

Fungi adalah sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi memiliki bermacam-macam bentuk. Awam mengenal sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi, meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran keturunan yang memiliki penampilan yang sama sekali berbeda (ingat metamorfosis pada serangga atau katak). Fungi memperbanyak diri secara seksual dan aseksual. Perbanyakan seksual dengan cara :dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa.

5. Kingdom Plantae

Ciri yang segera mudah dikenali pada anggota plantae adalah warna hijau yang dominan akibat kandungan pigmen klorofil yang berperan vital dalam proses penangkapan energi melalui fotosintesis. Dengan demikian, tumbuhan secara umum bersifat autotrof. Beberapa perkecualian, seperti pada sejumlah tumbuhan parasit, merupakan akibat adaptasi terhadap cara hidup dan lingkungan yang unik. Karena sifatnya yang autotrof, tumbuhan selalu menempati posisi pertama dalam rantai aliran energi melalui organisme hidup (rantai makanan).

6. Kingdom Animalia

Tubuh hewan tersusun atas banyak sel yang telah
berdiferensiasi membentuk jaringan. Hewan tidak dapat membuat makanannya sendiri sehingga bersifat heterotrof. Kelompok ini terdiri dari semua hewan, yaitu hewan tidak bertulang belakang (invertebrata/avertebrata) dan hewan bertulang belakang (vertebrata).

Secara umum, ciri-ciri hewan adalah sebagai berikut :
1. Hewan merupakan organisme eukariota, multiseluler, dan heterotrofik
2. Sel-sel hewan tidak memiliki dinding sel yang menyokong tubuh dengan kuat, seperti pada tumbuhan atau jamur.
3. Keunikan hewan yang lain adalah adanya dua jaringan yang bertanggung jawab atas penghantaran impuls dan pergerakan, yaitu jaringan saraf dan jaringan otot sehingga dapat bergerak secara aktif.
4. Alat pernapasan pada hewan bermacam-macam tergantung pada tempat hidupya, ada yang bernafas dengan paru-paru seperti kucing, insang seperti ikan, kulit seperti cacing, trakea seperti serangga.
5. Dapat dikendali untuk manusia (hewan piaraan / sirkus).

Kesimpulan Klasifikasi Makhluk Hidup

Klasifikasi makluk hidup adalah suatu cara penggolongan atau pengelompokan makluk hidup yang dilakukan secara sistematis dimana pengelompokan disini didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri-ciri atau sifat dari makluk hidup tersebut. Jenis klasifikasi makhluk hidup dibagi menjadi 3, yaitu sistem klasifikasi alami, sistem klasifikasi buatan, dan sistem klasifikasi filogenik. Sejarah klasifikasi makhluk hidup dimulai dari sejarah 2 kingdom, 3 kingdom, 4 kingdom, 5 kingdom, dan 6 kingdom yang terdiri dari Kingdom Animalia, Kingdom Plantae, Kingdom Archaebakteria, Kingdom Eukariotik, Kingdom Fungi, dan Kingdom Protista.

DAFTAR PUSTAKA
Dirdjosoemarto, Soendjojo. 1995. Materi Pokok Penididikan IPA 1. Jakarta:   Universitas Terbuka.
Hasan, Akhmad. 2012. Modul Pintar Biologi. Jakarta: Citra Pustaka.
Kusnadi dan Didik Priyandoko. 2004. Biologi 1 A. Jakarta: Prianti Darma Kalokatama.
Kimball, John. 1983. Biologi I Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Pratiwi, D.A. 2006. Biologi SMA Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Sulistyorini, Ari. 2009. Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Syamsuri, Istamar. 2006. Biologi Jilid 1 A. Jakarta: Erlangga.
Raharjo, Syukur E. 2015. Klasifikasi Makhluk Hidup. Jakarta: SMAN 78 Jakarta.

Itulah pengertian klasifikasi makhluk hidup beserta tujuanya, semoga bermanfaat.